Yang Mau Maju Jadi Ketua PSSI Sabar, Saya Belum Selesai

Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule diperiksa lima jam di Polda Jawa Timur terkait Tragedi Kanjuruhan.

Jakarta, CNN Indonesia

Setelah menghindar dari media seusai Tragedi Kanjuruhan, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule akhirnya kembali berani bersuara.

Pada Selasa (1/11) malam Iriawan menyambangi kantor Transmedia. Kali ini Iriawan tak didampingi orang-orang PSSI, seperti Sekjen atau anggota Komite Eksekutif (Exco).

Tetap mengenakan kemeja PSSI, Iriawan tampak lebih segar. Wajah tegang, seperti saat mengumumkan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, tidak lagi menghiasi air muka pria 60 tahun itu.

“Sekarang sudah lega,” kata Iriawan. Ini pula yang membuat Iriawan mulai bersedia diwawancara media. Ini hal langka. Pasalnya Iriawan sempat menghindar dari sodoran pertanyaan jurnalis.

Selama setengah jam lebih Iriawan menyampaikan isi hatinya. Keluh, kesah, keresahan, kegundahan, dan juga harapan-harapannya diungkapkan. Semua dijelaskan tanpa ada sesi ‘off the record‘.

Berikut ini adalah tanya jawab Iriawan dengan sejumlah jurnalis Transmedia, termasuk CNNIndonesia.com dan CNNIndonesia TV dalam dua sesi yang berbeda dan digabungkan.

KLB PSSI akhirnya digelar?

Saya lebih mengedepankan kepentingan sepak bola. Kita kemarin rapat emergency meeting dan kami sepakat semua, meski baru dua klub yang mengajukan, surabaya dan solo, tapi yang kita bahas kepentingan sepak bola.

Ekosistem kita harus jalan. Banyak orang menggantungkan hidupnya dari sepak bola. Marwah sepak bola adalah kompetisi. Di situlah ekosistem berputar.

Apalah artinya saya, seorang ketua umum PSSI mengobarkan sepak bola yang tidak jalan.

Rekomendasi TGIPF kan mengatakan, pemerintah tidak akan mengizinkan kompetisi sepak bola sebelum KLB. Saya penuhi. Yang terpenting saya tidak ingin ada banyak korban dari sepak bola terhenti.

Itu salah satu pertimbangan kami semua melakukan itu. Sebanyak 120.000 orang menggantungkan hidupnya di sepak bola, pemain, pelatih, ofisial, UMKM, itu sekarang berhenti.

Kami berharap dengan adanya ini [KLB] kompetisi akan kembali bergulir. Kami berharap itu. Ini kan semua keinginan klub. Sekarang semua mati hidup. Ini berkaitan dengan kehidupan di sepak bola.

Kedua, syarat KLB itu 2/3 dari voters mengajukan KLB kepada PSSI. Ini kan belum terpenuhi. Ini baru dua voters, tapi kami melihat nanti eskalasi makin tidak bagus di bawah.

Nanti ada yang mendukung, ada yang menolak, nanti ada yang berhadapan. Saya khawatir terjadi gesekan. Saya secara psikologis pun saya tidak mau [ada gesekan di internal PSSI].


Berat pertimbangannya?

Ya, harus dilakukan. Berat ga berat tergantung beratnya, tergantung melihatnya. Sekali lagi, saya mengedepankan kepentingan lebih besar.

Kalau buat saya, apa artinya seorang ketua PSSI? Ya harus mementingkan yang lebih besar. Saya kan hanya menjalankan amanah.

Bagaimana respons FIFA soal KLB PSSI?

Saya belum tahu. Yang jelas saya sudah mengirim surat ke FIFA. Responnya belum. Kami menunggu. Jadi di surat itu kami mengajukan KLB. Mudah-mudahan akan lebih baik lagi.

Saya doakan ketua umum yang baru nanti bisa lebih baik lagi.

Sekarang kita juga sedang melakukan transformasi sepak bola dengan FIFA. Semua sektor di sepak bola, tata kelola, kompetisi, stadion, dan suporter, semua dibahas. Itu FIFA mendampingi saya, PSSI. Sudah ada namanya tim task force.

Banyak isu sejatinya KLB hanya taktik pengalihan?

Oh, enggaklah. Itu sudah aturan. Saya tidak berpikir akan kepilih atau tidak. Saya belum tentu mau maju kan.

Kita tidak bicara itu. Kita selesaikan yang menjadi kewajiban untuk perbaikan sepak bola. Ada transformasi sepak bola yang sudah diberikan konsultasi atau pendampingan oleh FIFA.

Kalau saya dan Exco tidak ada, siapa yang mau memimpin dan menjalankan ini? Meskipun ada Kesekjenan, tapi harus ada leader-nya. Itu salah satu bentuk kita dengan Exco itu.

Kalau voters mengajukan Anda lagi bagaimana?

Saya tidak berandai-andai ke sana. Saya selesaikan dulu saja yang sekarang. Kami selesaikan transformasi. Saya kan, KLB masih Maret, saya akan selesaikan sisa pekerjaan saya sampai Maret ini.

Ada Piala AFF nanti [Desember 2022-Januari 2023]. Saya harus kawal anak-anak. Faktanya sekarang saya masih ketua umum.

Itu kan sama dengan, maaf, gubernur kan habis jabatannya 16 Oktober, dia kan bekerja sampai akhir. Nah, saya akan kerjakan itu. Itu bentuk tanggung jawab saya secara moral.

Secara pribadi akan mengajukan diri lagi?

Ga bisa saya bicara seperti itu. Jadi biarkan saya bekerja dulu. Saya akan selesaikan sisa masa jabatan saya dengan maksimal untuk sepak bola. Itu bentuk tanggung jawab saya.

Transformasi juga harus selesai dan harus bisa ditindaklanjuti oleh pihak terkait, seperti Polri. Harus ditindaklanjuti apa peraturan kepolisian. Itu namanya Perpol. Itu sudah dibuat. Kemarin sudah ada drafnya. PUPR akan memperbaiki beberapa stadion sepak bola yang akan dipakai liga.

Presiden kita luar biasa. Ini saatnya sepak bola kita maju dengan dukungan presiden yang amat sangat luar biasa untuk sepak bola. Ada Inpres Percepatan Sepak Bola Nasional. Beliau perhatian sekali. Kita melakukan TC dikasih terus. Sejuk iklim sepak bola kita. Sepak bola usia muda didorong terus.

Ya, saya berharap untuk teman-teman yang ingin mencalonkan diri, sabar ya. Ada waktunya nanti. Jangan mendorong, memframing terus sepak bola kita. Ada waktunya.

Sayang kan uangnya didorong untuk semacam framing yang dilakukan. Lebih baik berikan kepada yatim piatu. Lebih bermanfaat. Saya sedih juga. Sepak bola kita tidak akan maju kalau begini terus.

Sekarang saya dengan pemerintah sudah bergandengan tangan. Suka tidak suka, Timnas, bukan karena saya, sudah berbunyi sekarang. Sekali lagi bukan karena saya.

Saya bagian terkecil yang mendukung timnas bisa seperti kecil.

Saya hanya menyemangati, mempersiapkan, menjadi pelayan kepada pelatih dan pemain. Saya persiapkan hotelnya, saya bikin iklim kondusif dengan pemain dan pelatih.

Saya anggap seperti adik sendiri Shin Tae Yong. Seperti anak sendiri ke pemain. Itu bagian kecil saya, tapi mereka semua yang bekerja.

Bisa kita lihat, senior sudah lolos Piala Asia. Teman-teman bisa lihat berapa tahun kita tidak lolos. Ini bukan saya, semua pemain yang bekerja. Ranking kita dari 179 sekarang 152.

Kemudian satu lagi yang U-20 lolos ke Piala Asia meskipun kita pasti main di Piala Dunia U-20. Kemudian kemarin AFF U-16 juara. Iqbal cees itu calon-calon kita.

Saya bilang ke Shin Tae Yong anggap pemain itu keponakan kamu. Jadi iklim itu saya bangun dalam timnas.

Dalam visi misi saya dulu, pertama Timnas kita harus berbunyi. Ini pemersatu bangsa. Kalau Timnas sudah bisa melakukan yang terbaik untuk rakyat Indonesia, itu bangga dan gembira masyarakat Indonesia. Tidak ada ras, suku, golongan kalau sudah timnas. Semua bersatu.

Kompetisi juga harus baik, bagus, dan enak ditonton. Kompetisi kita masih belum baik, tapi kita mencoba memperbaiki untuk lebih profesional.

Mungkin bisa dilihat valuasi sekarang Liga 1 sudah cukup mahal. Liga 2 dulu cuma Rp2 miliar, sekarang Rp12 miliar sampai Rp24 miliar. Artinya ada kenaikan industri yang luar biasa.

Tentu itu kami jaga. Jaganya bagaimana? Ya, profesional. Semua yang punya klub, yang jadi Exco, saya perlakukan sama.

Saya masuk waktu itu, saya bilang, ini kertas putih mari kita isi dengan tinta emas, karena saya ingin memberikan legacy dalam sisa hidup saya untuk berbakti pada sepak bola menjadi lebih baik.

Saya sampaikan, sebenarnya sudah cukuplah hidup saya. Saya ini ingin berikan sisa hidup saya untuk negara. Terlalu banyak Yang Kuasa memberikan kemudahan dalam hidup saya.

Saya diberikan Kapolda tiga kali. Itu luar biasa. Saya berterima kasih kepada negara. Saya jadi pejabat gubernur juga sekali. Itu kepercayaan.

Waktu saya maju dulu, dilarang oleh ibu saya, “Ga usahlah.” Katanya, “Kamu kan pensiun tinggal empat lima bulan lagi, sudah istirahat saja.”

Kemudian istri saya bilang, “Jalan-jalan saja pa, ke luar negeri seperti teman-teman.” Saya bilang, “Ma, biarkan papa mengabdikan sisa hidup papa untuk negara, untuk sepak bola, karena papa masih ingin bekerja, untuk memperbaiki sepak bola.”

Sepak bola memang harus diperbaiki meskipun tidak jelek. Harus diperbaiki terus. Maka dari itu saya maju.

Saya sampaikan ke anak-anak, “Biarkan saja papa bekerja. Papa ingin memberikan legacy dalam sisa hidup papa. Memberikan kenangan kepada kamu dan rakyat Indonesia pada masa Iwan Bule itu sepak bola beginilah. Itu menjadi bekal papa nanti. Kalau papa dipanggil [meninggal] nanti, rakyat yang suka pasti mendoakan saya.”

Sekarang Anda dicaci maki banyak orang, bagaimana respons keluarga?

Biasa saja. Dibilang terima saja.

Keluarga tidak meminta Anda mundur?

Enggak. Mundur itu bukan menjadi yang terbaik. Sebenarnya saya rasa mundur itu tindakan pengecut.

Justru dengan maju memperbaiki, itu tanggung jawab moral saya. Moral mengartikannya sulit. Tidak ada parameternya masalah moral itu. Menurut saya, saya harus menghadapi ini.

Saya delapan hari loh, di Malang. Delapan hari dari awal sampai hari ke delapan, tahlilan, saya pulang.

Di sana [Malang] ditelepon anak istri saya, “Pa, pulang. Ini kan situasi di Malang orang masih sedih.” Saya bilang, “Nak kalau papa sampai harus dipanggil [meninggal] di sana, ya itu sudah waktunya.”

Saya juga dulu mengamankan [demonstrasi] 212, 414. Saya korbankan jiwa saya untuk negara. Jadi alhamdulillah keluarga saya mengerti untuk risiko dari seorang ketua umum PSSI.



Target KLB PSSI hingga Minta STY Bertahan di Timnas

BACA HALAMAN BERIKUTNYA



Sumber: www.cnnindonesia.com