Tangkas dan Suryanaga yang Mulai Kehilangan Daya

PB Tangkas dan PB Suryanaga banyak melahirkan atlet-atlet kelas dunia. Namun kini justru mereka terlihat renta dan kehilangan daya.

Jakarta, CNN Indonesia

“Kalau ditanya bisa atau tidak [Tangkas berhenti beroperasi], saya bilang bisa saja. Kami realistis saja. Umur manusia saja tidak ada yang tahu.”

Mata Juniarto Suhandinata, Dewan Pembina PB Tangkas menerawang. Ia masih mengingat jelas bagaimana keluarganya membangun PB Tangkas dari dekade ke dekade.

PB Tangkas berdiri pada 1951. Pak Saputra yang mendirikan PB Tangkas lalu menawarkan pada Suharso Suhandinata, ayah dari Juniarto dan Justian Suhandinata, untuk mengelola PB Tangkas. Suharso menyanggupi dan kemudian setelah itu PB Tangkas rutin berlatih di Hall C Senayan.

Seiring pengelolaan di tangan Keluarga Suhandinata, PB Tangkas makin berkembang menjadi klub yang dikelola lebih profesional. Sponsor pun berdatangan masuk sebagai salah satu sumber dana pembinaan.

Dengan dana yang besar dan sistem pembinaan yang baik, Tangkas melahirkan atlet-atlet yang layak masuk kategori legenda. Ade Chandra, Verawaty Fadjrin, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky, Hendrawan, Nova Widianto, Liliyana Natsir, dan Vita Marissa adalah pemain-pemain yang pernah merasakan tempaan tangan dingin PB Tangkas dari dekade ke dekade.

Namun seiring zaman berkembang, langkah PB Tangkas justru malah melambat. Mereka kepayahan mengejar zaman. Dana pembinaan jadi kendala utama langkah mereka terasa berat.


PB Tangkas kesulitan mendapatkan sponsor sehingga hal itu berpengaruh pada kelangsungan roda organisasi mereka. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)

PB Tangkas pernah disponsori Bimantara, Bogasari, Alfamart, Specs, lalu Intiland. Sekitar tahun 2017, Juniarto menyebut klub Tangkas mulai kesulitan menggaet sponsor. Tak hanya itu, Juniarto dan Justian yang jadi lokomotif penggerak juga semakin menua.

“Kami saat ini tidak dapat sponsor. Kemudian pengurusnya sudah tua, saya juga lebih sering di luar negeri. Kalau pengurus mungkin bisa dicari, tetapi yang penting kan uangnya. Sekarang kami tidak punya sponsor, kalau mengandalkan Pak Justian terus tidak bisa.”

“Nama besar saja tidak cukup. Karena sponsor kan memikirkan bisnis. Kalau tidak menguntungkan, mereka berpikir lebih baik sponsor ke sepak bola misalnya. Saya juga kanker lever di 2014 jadinya saya non aktif. Tahun 2018 saya sudah tidak aktif di kepengurusan,” ucap Juniarto.

Aliran dana pembinaan yang seret akhirnya membuat PB Tangkas saat ini tergantung pada keluarga Suhandinata sebagai sumber dana. Hal itu lalu berdampak pada jumlah atlet yang bisa ditampung di PB Tangkas.

Menurut keterangan Waljiman, salah satu pengurus PB Tangkas, saat ini hanya ada 36 atlet yang berada dalam naungan PB Tangkas. Padahal di masa jaya, PB Tangkas bisa menampung hingga 120 orang.

Berkurangnya jumlah atlet yang bernaung di PB Tangkas akhirnya memberi efek domino minimnya atlet asal klub tersebut yang kini berada di Pelatnas Cipayung. Saat ini hanya ada empat pemain asal PB Tangkas yang berada di Pelatnas Cipayung, yaitu Jonatan Christie, Christian Adinata, Zachariah Sumanti, dan Winny Oktavina Kandow.

“Untuk bisa kembali berjaya, yang pertama dan pasti itu ketika dananya itu ada. Yang kedua, kekuatan pengurus kembali seperti dulu. Artinya ada sosok seperti ‘Justian Muda’ dan ‘Juniarto Muda’,” kata Waljiman.

Juniarto mengakui bahwa pilihan Tangkas untuk realistis adalah hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini.

“PB Tangkas berusaha mencari sponsor. Kami juga tahu diri bahwa kami menganggap diri sebagai klub kecil saja. Kalau dana tidak ada, bagaimana kami bisa belagu menjadi klub besar?” ungkap Juniarto.

Dalam situasi sulit seperti ini, Juniarto pun terbuka terhadap semua kemungkinan, termasuk kemungkinan PB Tangkas bubar.

“Kalau ditanya bisa atau tidak [Tangkas berhenti beroperasi], saya bilang bisa saja. Kami realistis saja. Umur manusia saja tidak ada yang tahu.”

Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>



PB Suryanaga yang Meredup Tak Bertenaga

BACA HALAMAN BERIKUTNYA



Sumber: www.cnnindonesia.com